Senin, 25 Agustus 2014

Rancangan Penelitian Deskriptif

RANCANGAN PENELITIAN DESKRIPTIF


I.     PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Penelitian deskriptif adalah suatu penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk memberikan gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif.  Menurut Sukmadinata, N. S,  (2011), penelitian deskriptif ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena yang bersifat alamiah atau rekayasa manusia.
Penelitian deskriptif juga berarti penelitian yang dimaksudkan untuk menjelaskan fenomena atau karakteristik individual, situasi atau kelompok tertentu secara akurat. Penelitian deskriptif merupakan cara untuk menemukan makna baru, menjelaskan sebuah kondisi keberadaan, menentukan frekuensi kemunculan sesuatu dan mengkategorikan informasi.

Penelitian deskriptif dilakukan dengan memusatkan perhatian kepada aspek-aspek tertentu dan sering menunjukkan hubungan antar berbagai variabel. Setiap metode penelitian yang digunakan dalam penelitian memiliki desain atau rancangan. Rancangan digunakan sebagai pedoman yang dapat ditempuh oleh peneliti dalam melakukan penelitian. Sebuah rancangan penelitian meliputi proses perencanaan dan pelaksanaan penelitian.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana ruang lingkup penelitian deskriptif ?
2.      Bagimana langkah-langkah pengembangan rancangan penelitian deskriptif ?

C.    Tujuan
1.      Menjelaskan ruang lingkup penlitian deskriptif ?
2.      Mendeskripsikan langkah-langkah pengembangan rancangan penelitian deskriptif ?

II.  PEMBAHASAN

A.    Ruang Lingkup Penelitian Deskriptif
Pengertian penelitian deskriptif menurut Sukmadinata, N. S,  (2011), adalah suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung pada saat ini atau saat yang lampau. Whitney (1960) berpendapat, metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat, (http://lubisgrafura.wordpress.com). Penelitian deskriptif dapat digunakan pendekatan kuantitatif  berupa pengumpulan dan pengukuran data yang berbentuk angka atau pendekatan kualitatif berupa penggambaran keadaan secara naratif (kata-kata) apa adanya, (Sukmadinata, N. S,  2011).
Metode deskriptif lebih luas dari metode survey, sehingga metode survey merupakan bagian dari penelitian deskriptif. Terkait dengan ini Sukmdiana, N.S, (2011), berpendapat bahwa :
1.      Deskripsi merupakan hal alamiah sesuai kenyataan kehidupan.
2.      Deskriptif mencakup makna lebih luas (kuantitaif dan kualitatif).
3.      Lebih lengkap dari metode survey dengan observasi dan studi dokumenter.
4.      Deskriptif merupakan penelitian paling dasar dari peneitian eksperimen.
5.      Cocok bagi peneliti pemula dalam pengembangan kemampuan penelitian.
Pemilihan dan penentuan metode penelitian tidak dapat dipisahkan dari tujuan dan perumusan masalah, (Sukmadinata, N. S,  2011). Penelitian deskriptif  yang dimaksudkan  untuk menggambarkan atau mendeskripsikan satu variabel secara sistematis disebut dengan penelitian deskriptif. Jika penelitian bermaksud untuk mengetahui hubungan atau perbandingan maka metode penelitian yang digunakan adalah korelasional atau komparatif, karena itu kedua penelitian ini termasuk pada jenis penelitian deskriptif.  Sesuai dengan nama jenis penelitiannya, penelitian  deskriptif ditandai adanya upaya untuk mengetahui kondisi  sesuatu, baik itu berupa situasi atau keadaan, mutu atau kualitas kinerja seseorang, atau kaitan antara dua kondisi  yang berupa hubungan atau perbandingan, (http://id.shvoong.com).
Ditinjau dari segi masalah yang diselidiki, teknik dan alat yang digunakan dalam meneliti, serta tempat dan waktu, penelitian ini dapat dibagi atas beberapa jenis. Menurut Sukmadinata, N. S,  (2011), Ada beberapa variasi dalam penelitian deskriptif yaitu studi perkembangan, studi kasus, studi kemasyarakaatan, studi perbandingan, studi hubungan, studi waktu dan gerak, studi lanjut, studi kecendrungan, analisis kegiatan dan analisis atau dokumen dll.
1.      Studi Perkembangan, bisa mendeskripsikan sesuatu keadaan saja, tetapi bisa juga mendeskripsikan keadaan dalam tahapan-tahapan perkembangannya.
2.      Studi Kasus, metode untuk menghimpun dan menganalisis data berkenaan dengan sesuatu kasus.
3.      Studi Kemasyarakatan,  kajian intensif yang dilakukan terhadap suatu kelomok masyarakat yang tinggal bersama di suatu daerah yang memiliki ikatan dan karakteristik tertentu.
4.      Studi Perbandingan, bentuk penelitian deskriptif  yang membandingkan dua atau lebih dari dua situasional.
5.      Studi Hubungan, disebut juga studi korelasional yang meneliti hubungan antara dua hal, dua variabel atau lebih.
6.      Studi Waktu dan Gerak, ditujukan untuk meneliti atau menguji  jumlah waktu dan banyaknya gerak yang diperlukan untuk melakukan suatu kegiatan.
7.      Studi Kecenderungan, studi ini diarahkan untuk melihat kecenderungan perkembangan.
8.      Studi Tindak Lanjut, merupakan pengumpulan data  terhadap para lulusan atau orang-orang  yang telah menyelesaikan suatu program pendidikan, latihan atau pembinaan.
9.      Analisis Kegiatan, diarahkan untuk menganalisis kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanaan suatu tugas atau pekerjaan adalam bidang industri, bisnis, pemerintahan, lembaga sosial dll baik dalam kegiatan produksi atau layanan jasa.
10.  Anaisis Isi atau Dokumen, ditujukan untuk menghimpun dan  menganalisis dokumen-dokumen resmi, yang valid dan keabsahannya.


B.     Pengembangan Rancangan Penelitian Deskriptif
Rancangan atau desain penelitian dalam arti sempit dimaknai sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis penelitian. Dalam arti luas rancangan penelitian meliputi proses perencanaan dan pelaksanaan penelitian, (http://lubisgrafura.wordpress.com/). Dengan demikian maka pengembangan rancangan deskriptif menjelaskan langkah-langkah sistematis yang ditempuh dalam penelitian deskriptif.
1.      Mengidentifikasi dan Memilih Masalah yang Akan Diteliti
Identifikasi masalah merupakan upaya mengelompokam, mengurutkan sekaligus memetakan masalah berdasarkan bidang-bidang studi, (Sukmadinata, N.S, 2011). Identifikasi masalah pada umumnya mendeteksi, melacak, menjelaskan aspek permasalahan yang muncul dan berkaitan dengan masalah atau variabel yang akan diteliti, Riduwan, (2009).
Menurut Sukmadinata, N. S,  (2011), dalam megidentifikasi masalah sebaiknya menggunakan sumber, baik sumber resmi pernyataan resmi, kesimpulan seminar atau kenyataan faktual. Melalui proses ini maka akan dapat diketahui gambaran masalah yang akan diteliti. Gambaran masalah yang telah teridentifikasi dihubungkan, dibandingkan satu sama lain, kemudian diurutkan berdasarkan rangking yang paling penting, mendesak sampai paling kurang. Meskipun telah diurutkan berdasarkan tingkat urgensi, masalah-masalah yang telah teridentifikasi perlu dipilih dengan pertimbangan minat dan kemampuan peneliti, lokasi dan sumber data, waktu, dana dll.
Menurut Sukmadinata, N. S,  (2011), untuk memecahkan masalah atau menentukan suatu tindakan diperlukan sejumlah informasi. Informasi tersebut dikumpulkan melalui proses penelitian deskriptif. Masih menurut Sukmadinata, N. S,  (2011), bahwa ada beberapa informasi yang bisa diperoleh melalui penelitian deskriptif bagi pemecahan masalah yaitu : 1) bagaimana keadaan sekarang, 2) informasi yang kita inginkan dan 3) bagaimana sampai ke sana, bagaimana mencapainya.

2.      Merumuskan dan Mengadakan Pembatasan Masalah
Setelah masalah diidentifikasi, dipilih, lalu perlu dirumuskan. Rumusan masalah merupakan pemetaan faktor-faktor atau variabel-variabel yang terkait dengan fokus masalah (Sukmadinata, N. S,  2011). Perumusan ini penting, karena berdasarkan rumusan tersebut maka peneliti dapat menentukan metode penelitian, metode pengumpulan data, pengolahan data maupun analisis dan penyimpulan hasil penelitian.
Pembatasan masalah dilakukan agar penelitian terarah, terfokus,  dan tidak melenceng ke mana-mana (Riduwan, 2009). Perlu diperhatikan bahwa sifat masalah akan menentukan cara-cara pendekatan yang sesuai dan akhirnya akan menentukan rancangan penelitiannya. Perumusan masalah berhubungan dengan tujuan dan metode yang digunakan, (Sukmadinata, N. S,  2011). Kalau tujuan penelitian diarahkan untuk memperoleh gambaran dan deskripsi secara rinci, sistematis dan akurat suatu fenomena maka metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif maupun kualitatif.
Jika tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan atau komparasi suatu variabel maka metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif korelasi atau komparasi. Selain untuk mendeskripsikan suatu fenomena, penelitian deskriptif juga dirancang untuk membuat komparasi maupun untuk mengetahui hubungan atas satu variabel kepada variabel lain. Suharsimi, A, (2005), menyatakan karena itu pula penelitian komparasi dan korelasi juga dimasukkan dalam kelompok penelitian deskriptif, (http://infopendidikan-hendriyansyah. blogspot.com).
3.      Melakukan Kajian Pustaka
Setelah masalah penelitian ditetapkan, selanjutnya pada tahapan ini peneliti mencari landasan teoritis dari permasalahan penelitiannya dengan cara melakukan kajian pustaka. Tujuan kajian pustaka adalah untuk memperoleh informasi yang relevan dengan masalah yang diteliti, memperdalam pengetahuan tentang obyek (variabel) yang diteliti, mengkaji teori dasar yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, mengkaji temua penelitian terdahulu, dan mencari informasi aspek masalah yang belum tergarap.
Sumber kajian pustaka dapat diperoleh dari sumber primer dan sekunder. Sumber primer merupakan karangan asli yang ditulis oleh orang lain secara langsung mengalami, melihat dan mengerjakan sendiri. Sumber sekunder adalah tulisan tentang penelitian orang lain. Bahan pustaka yang biasanya tersedia diperpustakaan adalah ensiklopedia, kamus, buku-buku teks dan buku referensi, buku pegangan, biografi, indeks, abstrak laporan penelitian, majalah, jurnal dan surat kabar, skripsi, tesis, desertasi.
4.      Membuat Asumsi atau Anggapan-Anggapan
Asumsi dalam konteks penelitian diartikan sebagai anggapan dasar, yaitu suatu pernyataan atau sesuatau yang diakui kebenarannya atau dianggap benar tanpa harus dibuktikan lebih dahulu. Asumsi penelitian merupakan pijakan berpikir dan bertindak dalam melaksanakan penelitian. Menurut sifatnya ada tiga jenis asumsi, yaitu asumsi konseptual, asumsi situasional dan asumsi operasional. Asumsi konseptual berakar pada pengakuan akan kebenaran suatu konsep atau teori. Asumsi situasional diperlukan untuk mengantisipasi adanya kondisi lokal atau situasi yang bersifat sementara yang berpotensi mempengaruhi berlakunya suatu hukum atau prinsip yang dapat menggoyahkan rancangan penelitian. Asumsi operasional bertolak dari masalah-masalah operasional yang masih dalam jangkauan pengendalian peneliti, (Ibnu, Mukhadis, Dasna,  2003, dalam http://infopendidikan-hendriyansyah.blogspot.com).
5.      Merumuskan Hipotesis Penelitian, Bila Ada
Hipotesis merupakan dugaan sementara atas permasalahan yang diteliti. Penelitain deskriptif diperlukan perumusan hipotesis atau tidak tergantung pada masalah dan tujuan yang telah dirumuskan, (Sukmadinata, N. S, 2011). Penelitian deskriptif yang ditujukan untuk membuat penjelasan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu tanpa membandingkan atau menghungkan, tidak memerlukan hipotesis. Namun demikian, sebuah penelitian deskriptif yang dirancang untuk membuat komparasi atau hubungan perlu merumuskan hipotesis.
6.      Menentukan Populasi, Sampel, Teknik Sampling
Populasi adalah keseluruhan subjek atau objek yang berbeda pada sustu wilayah dan memenuhi sayarat-syarat tertentu berkaitan  masalah yang diteliti, (Martono, N, 2011). Kemudian dijelaskan bahwa sampel merupakan bagian dari populasi  yang memiliki ciri-ciri atau keaadan tertentu yang akan diteliti. Terkait dengan hal ini dalam penelitian deskriptif juga dilakukan penentuan sampel baik dengan teknik probability  maupun non probability.
7.      Menentukan Instrumen
Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti. Instrumen atau alat pengumpul data harus sesuai dengan tujuan pengumpulan data. Sumber data dan jenis data yang akan dikumpulkan harus jelas. Instrumen penelitian yang digunakan harus memenuhi persyaratan validitas (kesahihan) dan reliabilitas (keterandalan), paling tidak ditinjau dari segi isinya sesuai dengan variabel yang diukur. Prosedur pengembangan instrumen pengumpul data perlu dijelaskan tentang proses uji coba, analisis butir tes, uji kesahihan dan uji keterandalan. Dalam penelitian deskriptif kuantitaif, instrumen yang sering digunakan adalah angket (kusioner), pedoman wawancara dan pedoman pengamatan, (http://infopendidikan-hendriyansyah.blogspot.com)
8.      Teknik Pengumpulan Data
Ada beberapa teknik pengumpulan data yaitu wawancara, angket, observasi dan studi dokumenter, Sukmadinata, N. S,  (2011). Terdapat perbedaan penelitian deskriptif dengan penelitian survey dalam hal teknik pengumpulan data. Menurut Sukmadinata, N. S,  (2011), kajian deskriptif lebih luas dibanding survey karena mencakup penelitia observasi dan studi dokumenter, sedangkan survey terbatas pada penggunaan wawancara dan angket.
Wawancara merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan cara melakukan percakapan dengan responden atau narasumber. Angket atau kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyataan atau penrnyataan tertulis kepada responden untuk dijawab, (Sugiyono, 2010). Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung, (Sukmadinata, N. S,  (2011). Selanjutnya dijelaskan bahwa teknik studi dokumen merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisa dokumen-dokumen tertulis gambar maupun elektronik.
9.      Analisi Data
Berdasarkan sifat data yang dikumpulkan, analisis data hasil penelitian dibedakan menjadi dua, yaitu analisis kuantitatif dan analisis kualitatif. Analisis kuantitatif digunakan untuk data yang dapat diklasifikasi dalam bentuk angka-angka. Analisis kualitatif digunakan untuk data yang bersifat uraian kalimat (data narartif) yang tidak dapat diubah dalam bentuk angka-angka.
Data yang bersifat kauntitaif pada penelitian deskriptif mutlak dianalisa dengan mengguakan statistis. Statistik deskriptif  digunakan menganalisa data yang bersifat kuantitatif dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data apa adanya.  Statistik deskriptif bisa berupa rata-rata hitung (mean), median, modus,  kadang-kadang persentase dll. Menurut Sugiono, (2010), statistik deskriptif juga dapat dilakukan mencari kuatnya hubungan antar variabel melalui analisis korelasi, melakukan prediksi dengan analisi regresi dan membuat perbandingan dengan membandingkan rata-rata data sampel atau populasi.
10.  Menarik Kesimpulan atau Generalisasi
Akhirnya dalam kesimpulan harus mencerminkan jawaban dari pertanyaan yang diajukan. Jangan sampai antara masalah penelitian, tujuan penelitian, landasan teori, data, analisis data dan kesimpulan tidak ada runtutan yang jelas. Jika rumusan masalah dan tujuan dalam penelitian deskriptif hanya ingin menjelaskan suatu fenomena secara deskriptif maka kesimpulan yang dikemukakan hanya bersifat deskriptif. Jika peneltian deskriptif yang bersifat membandingkan atau mencari hubungan maka kesimpulan akhir menggambarkan adanya perbedaan atau hubungan terkait dengan masalah yang diteliti.

III.   PENUTUP

Sebagai penutup, dapat ditarik beberapa kesimpulan terkait tujuan dari penulisan makalah ini, antara lain :
1.      Ruang lingkup penelitian deskriptif meliputi pengertian sebagai dasar pemahaman tentang penelitian deskriptif  dan berbagai variasi dalam penelitian deskriptif.
2.      Langkah-langkah pengembangan rancangan penelitian deskriptif  meliputi mengidentifikasi dan memilih masalah yang akan diteliti, merumuskan dan mengadakan pembatasan masalah, melakukan kajian pustaka, membuat asumsi atau anggapan-anggapan, merumuskan hipotesis penelitian bila ada, menentukan populasi, sampel, teknik sampling, menentukan instrumen, teknik pengumpulan data, analisi data dan menarik kesimpulan atau generalisasi



DAFTAR PUSTAKA

http://lubisgrafura.wordpress.com. Metode Penelitian Kuantitatif. Diakses tanggal 21 Oktober 2011.

http://www.kti-skripsi.net. Penelitian Deskriptif Analitik. Diakses tanggal 11 Oktober 2011.

http://www.freeservers.com. Penelitian Deskriptif Berorientasi Pemecahan Masalah. Oleh : Sulipan. Diakses tanggal 11 Oktober 2011.
 http://infopendidikan-hendriyansyah.blogspot.com. Rancangan Penelitian Deskriptif. Oleh : Hendriyansyah. Diakses tanggal 28 Oktober 2011.
 http://id.shvoong.com. Penelitian Deskriptif.  Diakses tanggal 20 Oktober 2011.

Martono, N. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Analisi Isi dan Analisi Data Sekunder. Cetakan ke 2 Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Riduwan. 2009. Metode dan Teknik Menyusun Proposal Penelitian (untuk Mahasiswa S1, S2 dan S3). Bandung : CV. Alfabeta.

Sugiono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Cetakan ke 11. Bandung : CV. Alfabeta.

 Sukmadinata, N. S,  (2011). Metode Penelitian Pendidikan. Cetakan ke 7. Bandung : Remaja Rosdakarya.

METODE-METODE PENELITIAN, Deskriptif kuantitatif

Metode Penelitian Kuantitatif

A. Pengantar
Metode penelitian kuantitatif memiliki cakupan yang sangat luas. Secara umum, metode penelitian kuantitatif dibedakan atas dua dikotomi besar, yaitu eksperimental dan noneksperimental. Eksperimental dapat dipilah lagi menjadi eksperimen kuasi, subjek tunggal dsb. Sedangkan noneksperimental berupa deskriptif, komparatif, korelasional, survey, ex post facto, histories dsb.
Makalah ini membatasi pembahasan metode penelitian kuantitatif pada tiga aspek. Ketiga aspek tersebut adalah bagian dari noneksperimental, yaitu deskriptif, historis, dan ex post facto.
Ada beberapa istilah yang sering dirancukan di dalam penelitian. Istilah tersebut adalah pendekatan, ancangan, rencana, desain, metode, dan teknik. Di dalam makalah ini disinggung mengenai perbedaan istilah tersebut untuk didiskusikan dan dicarikan simpulan bersama-sama.
B. Pembahasan
1. Berbagai istilah di dalam penelitian
Secara umum, jenis penelitian berdasarkan pendekatan analisisnya dibedakan menjadi dua, yaitu kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan ini lazim juga disebut sebagai pendekatan, ancangan, rencana atau desain.
Rancangan atau desain penelitian dalam arti sempit dimaknai sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis penelitian. Dalam arti luas rancangan penelitian meliputi proses perencanaan dan pelaksanaan penlitian. Dalam rancangan pereperencaan dimulai dengan megadakan observasi dan evaluasi rerhadap penelitian yang sudah dikerjakan dan diketahui, sampai pada penetapan kerangka konsep dan hipotesis penelitian yang perlu pembuktian lebih lanjut.
Rancangan pelaksanaan penelitian meliputi prose membuat prcobaan ataupun pengamatan serta memilih pengukuran variable, prosedur dan teknik sampling, instrument, pengumpulan data, analisis data yang terkumpul, dan pelaporan hasil penelitian.
Metode penelitian lebih dekat dengan teknik. Misalnya, penelitian dengan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Dengan kata lain, metode deskriptif tersebut dapat dikatakan juga sebagai teknik deskriptif. 
2. Penelitian Deskriptif
 2.1 Pengertian

Metode deskripsi adalah suatu metode dalam penelitian status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Whitney (1960) berpendapat, metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena.
Dalam metode deskriptif, peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. Adakalanya peneliti mengadakan klasifikasi, serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu, sehingga banyak ahli meamakan metode ini dengan nama survei normatif (normatif survei). Dengan metode ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan memilih hubungan antara satu faktor dengan faktor yang lain. Karenanya mentode ini juga dinamakan studi kasus (status study).
Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standar-standar sehingga penelitian ini disebut juga survei normatif. Dalam metode ini juga dapat diteliti masalah normatif bersama-sama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandingan-perbandingan antarfenomena. Studi demikian dinamakan secara umum sebagai studi atau penelitian deskritif. Perspektif waktu yang dijangkau, adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden.
2.2 Tujuan
Penelitian deskriptif bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki. 
 2.3 Ciri-ciri Metode Deskriptif
  • Untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian, sehingga metode ini berkehendak mengadakan akumulasi data dasar belaka.(secara harafiah)
  • Mencakup penelitian yang lebih luas di luar metode sejarah dan eksperimental.
  • Secara umum dinamakan metode survei.
  • Kerja peneliti bukan saja memberi gambaran terhadap fenomena-fenomena, tetapi :
    • menerangkan hubungan,
    • menguji hipotesis-hipotesis
    • membuat prediksi, mendapatkan makna, dan
    • implikasi dari suatu masalah yang ingin dipecahkan
    • Mengumpulkan data dengan teknik wawancara dan menggunakan schedule qestionair/interview guide.
2.4 Jenis-jenis Penelitian Deskriptif
Ditinjau dari segi masalah yang diselidiki, teknik dan alat yang digunakan dalam meneliti, serta tempat dan waktu, penelitian ini dapat dibagi atas beberapa jenis, yaitu:
  • Metode survei,
  • Metode deskriptif berkesinambungan (continuity descriptive),
  • Penelitian studi kasus
  • Penelitian analisis pekerjaan dan aktivitas,
  • Penelitian tindakan (action research),
  • Peneltian perpustakaan dan dokumenter.
2.5 Kriteria Pokok Metode Deskriptif
Metode deskriptif mempunyai beberapa kriteria pokok, yang dapat dibagi atas kriteria umum dan khusus. Kriteria tersebut sebagai berikut:
  1. kriteria umum
    • Masalah yang dirumuskan harus patut, ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas.
    • Tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum
    • Data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini.
    • Standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas.
    • Harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan.
    • Hasil penelitian harus berisi secara detail yang digunakan, baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta serta study kepustakaan yang dilakukan. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoritis yang digunakan jika kerangka teoritis untukitu telah dikembangkan.
  2. Kriteria Khusus
    • Prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value).
    • Fakta-fakta atupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status
    • Sifat penelitian adalah ex post facto, karena itu, tidak ada kontrol terhadap variabel, dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manupulasi terhadap variabel. Variabel dilihat sebagaimana adanya.
2.6 Langkah-langkah Umum dalam Metode Deskriptif
Dalam melaksanakan penelitian deskripif, maka langkah-langkah umum yang sering diikuti adalah sebagai berikut.
    1. Memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada.
    2. Menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. Tujuan dari penelitian harus konsisten dengan rumusan dan definisih dari masalah.
    3. Menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan.
    4. Merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji baik secara eksplisit maupun implisit.
    5. Melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data, gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian.
    6. Membuat tabulasi serta analisis statistik dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan. Kuranggi penggunaan statistik sampai kepada batas-batas yang dapat dikerjakan dengan unit-unit pengukuran yang sepadan.
    7. Memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi sosial yang ingin diselidiki serta dari data yang diperoleh dan referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan.
    8. Mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. Berikan rekomendasi-rekomendasi untuk kebijakan yang dapat ditarik dari penelitian.
    9. Membuat laporan penelitian dengan cara ilmiah.
Pada bidang ilmu yang telah mempunyai teori-teori yang kuat, maka perlu dirumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual yang kemudian diturunkan dalam bentuk hipotesis-hipotesis untuk diverivikasikan. Bagi ilmu sosial yang telah berkembang baik, maka kerangka analisis dapat dijabarkan dalam bentuk-bentuk model matematika.

3. Penelitian Historis (Historical Researc)
3.1 Pengertian dan Tujuan                        
Tujuan penelitian histories adalah untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan secara sistematis dan objektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memferivikasi, serta mensistensiskan bukti-bukti untukmenegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat. Seringkali penelitian yang demikian itu berkaitan dengan hipotesis-hipotesis tertentu.
Contoh penelitian histories adalah studi mengenai praktek “bawon” di daerah pedesaaan di Jawa Tengah, yang dimaksud memahami dasar-dasarnya diwaktu yang lampau serta relevansinya untuk waktu kini; studi ini dimaksudkan juga untuk mentest hipotesis bahwa nilai-nilai social tertentu serta rasa solidaritas memainkan peranan penting dalam berbagai kegiatan ekonomi pedesaan. Ciri yang menonjol dari penelitian histories adalah;
  1. Penelitian histories lebih bergatung pada data yang diobservasi orang lain dari pada yang diobsevasi oleh peneliti sendiri. Data yang baik akan dihasilkan oleh kerja yang cermat yag menganalisis keotentikan, ketepatan, dan peningnya sumber-sumbernya.
  2. Berlainan dengan anggapan yang popular, penelitian haruslah tertib ketat, sistematis, dan tutas; seringakali penlitian yang dikatakan sebagai suatu penelitiaan histories hanyalah koleksi informasi-informasi yang tak layak, tak reliable, dan berat sebelah.
  3. Penelitian histories tergantung kapada dua macam data, yaitu primer dan datasekunder. Data primer dipoleh dari sumberprimer, yaitu si peneliti (peneliti) secara langsung meakukan observasi atau menyaksikan kejadian-kejadian yang dituliskan. Dan data sekunder diperoleh dan sumber skunder, yaitu peneliti melaporkan hasil obsevasi orang lain yang satu kali atau lebih telah lepas dari kejadian aslinya. Dianatara kedua sumber itu, sumber primer dipandang sebagai memiliki otoritas sebagai bukti tangan pertama, dan diberi prioritas dalam pengumpulan data.
  4. Untuk menentukan bobot data, biasa dilakukan dua macam kritik, yaitu kritik eksternal dan kritik internal. Kritik eksternal menanyakan dokumen relic itu otentik, sedang kritik internal menanyakan apabila data itu otentik, apabila data otentik, apabila data tersebut akurat dan relevan. Kritik internal harus menguji motif, keberat sebelahan, dan keterbatasan si penulis yang mngkin melebih-lebihkan atau mengabaikan sesuatu da memberikan informasi yang terpalsu. Evaluasi kritis inilah yang menyebbkan penelitian histories itu sangat tertib-ketat, yang dalam bayak hal lebih disbanding dari pada studi eksperimental.
  5. Walaupun penelitian histories mirip dengan penelaahan kepustakaan yang mendahului lain-lain bentuk rancangan penelitian, namun cara pendekatan histories adalah tuntas, mencari informasi dan sumber yang lebih luas. Penelitian histories jga menggaliinformasi-informasi yang lebih tua dari pada yang umum dituntut dalam penelaahan kepustakaan, dan banyak juga menggali bahan-bahan tak diterbitkan yang tak dikutip dalam bahan acuan yang standar.

  1. Langkah Pokok Untuk Melaksanakan Penlitian Histories Atau Rancangan Penelitian Historis
Definisi masalah. Ajukan pertanyaan-pertanyaan berikut kepada diri sendiri:
  1. Rumusan tujuan penelitian dan jika mungkin, rumuskan hipotesis yang akan memberi arahdan focus bagi kegiatan penelitian itu.
  2. Kumpulan data, denganselalu mengingat perbedaan anatara sumber primer dan sumber sekunder.
  3. Suatu keterampilan yangsangat penting dalam penelitian histories adalah cara pencatatan data: dengan system kartu atau dengan system lembaran, kedua-duanya dapat dilakukan.
  4. Evaluasi data yng diperoleh dengan melakukan kritik eksternal dan kritik internal.
4. Rancangan Ex Post Facto
4.1 Pengertian Ex Post Facto
Penelitian dengan rancangan ex post facto sering disebut dengan after the fact. Artinya, penelitian yang dilakukan setelah suatu kejadian itu terjadi. Disebut juga sebagai restropective study karena penelitian ini merupakan penelitian penelusuran kembali terhadap suatu peristiwa atau suatu kejadian dan kemudian merunut ke belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut.Dalam pengertian yang lebih khusus, (Furchan, 383:2002) menguraikan bahwa penelitian ex post facto adalah penelitian yang dilakukan sesudah perbedaan-perbedaan dalam variable bebas terjadi karena perkembangan suatu kejadian secara alami.
Penelitian ex post facto merupakan penelitian yang variabel-variabel bebasnya telah terjadi perlakuan atau treatment tidak dilakukan pada saat penelitian berlangsung, sehingga penelitian ini biasanya dipisahkan dengan penelitian eksperimen. Peneliti ingin melacak kembali, jika dimungkinkan, apa yang menjadi faktor penyebab terjadinya sesuatu.

4.2 Perbandingan Antara Ex post Facto dengan Eksperimen
Dalam beberapa hal, penelitian ex post facto dapat dianggap sebagai kebalikan dari penelitian eksperimen. Sebagai pengganti dari pengambilan dua kelompok yang sama kemudian diberi perlakuan yang berbeda. Studi ex post facto dimulai dengan dua kelompok yang berbeda kemudian menetapkan sebab-sebab dari perbedaan tersebut. Studi ex post facto dimulai dengan melukiskan keadaan sekarang, yang dianggap sebagai akibat dari faktor yang terjadi sebelumnya, kemudian mencoba menyelidiki ke belakang guna menetapkan faktor-faktor yang diduga sebagai penyebabnya.
Penelitian ex post facto memiliki persamaan dengan penelitian eksperimen. Logika dasar pendekatan dalam ex post facto sama dengan penelitian eksperimen, yaitu adanya variabel x dan y. Kedua metode penelitian tersebut membandingkan dua kelompok yang sama pada kondisi dan situasi tertentu. Perhatiannya dipusatkan untuk mencari atau menetapkan hubungan yang ada di antara variabel-variabel dalam data penelitian. Dengan demikian, banyak jenis informasi yang diberikan oleh eksperimen dapat juga diperoleh melalui analisis ex post facto.
Dalam penelitian eksperimen, pengaruh variabel luar dikendalikan dengan kondisi eksperimental. Variabel bebas yang dianggap sebagai penyebab dimanipulasi secara langsung untuk meminimalkan pengaruh terhadap variabel terikat. Melalui eksperimen, peneliti dapat memperoleh bukti tentang hubungan kausal atau hubungan fungsional di antara variabel yang jauh lebih menyakinkan daripada yang dapat diperoleh menggunakan studi ex post facto.
Peneliti dalam penelitian ex post facto tidak dapat melakukan manipulasi atau pengacakan terhadap variabel-variabel bebasnya. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan dalam variabel-variabelnya sudah terjadi. Peneliti dihadapkan kepada masalah bagaimana menetapkan sebab dari akibat yang diamati tersebut. Furchan (383:2001) menyatakan bahwa dengan tidak adanya kemungkinan peneliti untuk melakukan manipulasi atau pengacakan.
Contoh perbedaan antara penelitian ex post facto dengan eksperimen adalah sebagai berikut. Sebuah penelitian berjudulPengaruh Kecemasan Siswa pada Waktu Mengerjakan Ujian Terhadap Hasil Ujian Mereka dapat didekati dengan dua metode, yaitu eksperimen dan eks post facto.
1) Pendekatan Eksperimen
Dalam judul di atas terdapat dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam judul di atas adalah kecemasan siswa dan ujian nasional. Variabel terikatnya adalah hasil ujian.
Ciri dari penelitian eksperimen adalah adanya manipulasi terhadap variabel bebas. Dari kondisi di atas, variabel bebas dapat dimanipulasi menjadi cemas dan tidak cemas. Konkritnya, sebuah kelas terdiri dari kelas A dan B. Masing-masing kelas dimanipulasi kondisinya menjadi kelas A menjadi kelas yang cemas, sementara kelas B menjadi kelas yang netral (pengendali).
Pengkondisian kelas dapat dilakukan dengan memberikan sugesti kepada kelas A bahwa ujian yang diberikan akan berpengaruh terhadap kenaikan kelas. Artinya, siswa yang memiliki nilai yang rendah bisa dimungkinkan tidak naik kelas. Sementara kelas B dikondisikan netral. Dengan pengertian bahwa ujian di kelas B hanyalah untuk mengukur kemampuan pemahaman terhadap suatu kompetensi tanpa adanya pengaruh dari hasil dengan kenaikan kelas.
Setelah kelas sudah terkondisikan, maka diberikan soal dengan tingkat kuantitas dan kualitas kesulitan yang sama. Pada waktu yang bersamaan, lembar jawaban dikumpulkan bersama dan dilakukan pengoreksian terhadap hasil jawab dari kelas A dan B. Apabila terjadi perbedaan nilai, semisal, nilai kelas A lebih tinggi daripada kelas B, maka dapat disimpulkan bahwa dengan adanya kecemasan ternyata mampu meningkatkan nilai ujian. Anggapan lain, bahwa dengan adanya kecemasan membuat siswa semakin berpacu untuk mendapatkan yang terbaik.
2) Pendekatan Ex post Facto
Hal penting dalam pendekatan ex post facto adalah tidak adanya manipulasi terhadap variabel. Dalam kasus di atas, dapat didekati dengan ex post facto dengan melihat situasi kelas A dan B yang sebelumnya tidak diadakan manipulasi. Artinya, kelas tersebut berjalan secara alami. Misalnya, hasil ujian kelas A dan B menunjukkan perbedaan dari satu siswa ke siswa lainnya. Dari hasil tersebut, dilakukan klasifikasi antara siswa yang memiliki nilai tinggi dengan siswa yang memiliki nilai rendah. Kemudian dihubungkan antara kecemasan dengan hasil nilai. Misalnya ditemukan kesimpulan bahwa nilai di atas rata-rata dikerjakan oleh siswa yang memiliki kecemasan. Oleh karena itu, pengaruh kecemasan siswa memang berpengaruh terhadap hasil ujian, yaitu menjadi lebih baik.
Penelitian dengan menggunakan pendekatan ini tentu saja memiliki kekurangan. Dari kasus di atas dapat terlihat satu celah kelemahan bahwa bisa jadi adanya faktor ketiga selain kecemasan yang membuat nilai ujian meningkat. Hal ini dimungkinkan adanya faktor ketiga, yaitu kecerdasan. Selain kecemasan, bisa dimungkinkan bahwa kecemasan adalah situasi lain, sedangkan kecerdasan menjadi penunjang utama
    1. Kekurangan Pendekatan Ex Post Facto
Pendekatan ex post facto memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan tersebut adalah sebagai berikut.
  1. Tidak adanya kontrol terhadap variabel bebas.
Oleh karena tidak adanya kontrol terhadap variabel bebas, maka sukar untuk memperoleh kepastian bahwa faktor-faktor penyebab yang relevan telah benar-benar tercakup dalam kelompok faktor-faktor yang sedang diselidiki.
  1. Kenyataan bahwa faktor penyebab bukanlah faktor tunggal, melainkan kombinasi dan interaksi antara berbagai faktor dalam kondisi tertentu untuk menghasilkan efek yang disaksikan, menyebabkan soalnya sangat kompleks.
  2. Suatu gejala mungkin tidak hanya merupakan akibat dari sebab-sebab ganda, tetapi dapat pula disebabkan oleh sesuatu sebab pada kejadian tertentu dan oleh lain sebab pada kejadian lain.
  3. Apabila saling hubungan antar dua variabel telah diketemukan, mungkin sukar untuk menentukan mana yang sebab dan mana yang akibat.
  4. Kenyataan bahwa dua, atau lebih, faktor saling berhubungan tidaklah mesti memberi implikasi adanya hubungan sebab akibat.
  5. Menggolongkan-golongkan subjek ke dalam kategori dikotomi (misalnya golongan pandai dan golongan bodoh) untuk tujuan perbandingan, menimbulkan persoalan-persoalan, karena kategori-kategori itu sifatnya kabur, bervariasi, dan tak mantap.
  6. Studi komparatif dalam situasi alami tidak memungkinkan pemilihan subyek secara terkontrol. Menempatkan kelompok yang telah ada yang mempunyai kesamaan dalam berbagai hal kecuali dalam hal dihadapkannya kepada variabel bebas adalah sangat sukar.
  1. Keunggulan Penelitian dengan Pendekatan Ex Post Facto
Metode ini baik untuk berbagai keadaan kalau metode yang lebih kuat, yaitu metode eksperimental, tak dapat digunakan. Apabila tidak selalu mungkin untuk memilih, mengontrol, dan memanipulasikan faktor-faktor yang perlu untuk menyelidiki hubungan sebab akibat secara langsung. Apabila pengontrolan terhadap semua variabel kecuali variabel bebas sangat tidak realistik dan dibuat-buat, yang mencegah interaksi normal dengan lain-lain variabel yang berpengaruh.
Apabila control di laboratorium untuk berbagai tujuan penelitian adalah tidak praktis, terlalu mahal, atau dipandang dari segi etika diragukan atau dipertanyakan. Studi kausal-komparatif menghasilkan informasi yang sangat berguna mengenai sifat-sifat gejala yang dipersoalkan: apa sejalan dengan apa, dalam kondisi apa, pada perurutan dan pola yang bagaimana, dan sejenis dengan itu.Perbaikan-perbaikan dalam hal teknik, metode statistik, dan rancangan dengan kontrol parsial, pada akhir-akhir ini telah membuat studi kausal komparatif itu lebih dapat dipertanggungjawabkan.
C. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa ketiga metode penelitian kuantitatif memiliki perbedaan jika ditilik dari tujuannya. Perbedaan tersebut tampak sebagai berikut:
        1. Penelitan deskriptif yang biasa juga disebut dengan penelitian survay adalah penelitian yang mencoba Untuk membuat pencandraan/gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat pada suatu obyek penelitian tertentu
        2. Penelitian historis untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif,dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasi, serta mensintesakan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat
        3. Penelitian ex post facto bertujuan untuk melacak kembali, jika dimungkinkan, apa yang menjadi faktor penyebab terjadinya sesuatu.

Rajanya Judul Skripsi. Semua Jenis Judul Penelitian

Judul 1                                 PERBEDAAN MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH (MENCARI PASANGAN) DENGAN MODEL PEMBELAJARAN BERTUKAR PASANGAN  TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI DI KELAS VII  SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN AJARAN 2013-2014
Rumusan masalah                   Adakah Perbedaan Motivasi Belajar Siswa Terhadap Model Pembelajaran Make A Match (Mencari Pasangan) Dengan Model Pembelajaran Bertukar Pasangan Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Materi Bentuk-Bentuk muka Bumi di Kelas VII  SMP Negeri 18 Palembang Tahun Ajaran 2013-2014 ?

Judul  2                                  PERBEDAAN MINAT BELAJAR SISWA TERHADAP PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN AUDIO VISUAL DENGAN MEDIA PEMBELAJARAN  GAMBAR KERTAS KARTON PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN AJARAN 2013-2014
Rumusan masalah                   Adakah Perbedaan Media Pembelajaran Audio Visual Dengan Media Pembelajaran Kertas Karton Terhadap Minat Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Materi Bentuk-Bentuk muka Bumi Di Kelas VII SMP Negeri 18 Palembang Tahun ajaran 2013-2014 ?

 

Judul  3                                 PERBEDAAN  MODEL PEMBELAJARAN PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan) DENGAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI  DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN AJARAN 2013-2014

Rumusan masalah             Adakah Perbedaan Hasil Belajar Siswa Terhadap Model Pembelajaran Paikem (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan) Dengan Model Pembelajaran Quantum Teaching Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Materi Bentuk-Bentuk Muka Bumi Di Kelas VII SMP Negeri 18 Palembang Tahun Ajaran 2013-2014 ?

                              
Judul 1                                 : PERBEDAAN PEMBELAJARAN YANG MENGUNAKAN MEDIA PEMBELAJARAN DENGAN YANG TIDAK MENGGUNAKAN MEDIA PEMBELAJARAN TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN 2013-2014
Rumusan Masalah             :  Adakah Perbedaan Minat Belajar Siswa Terhadap Pembelajaran Yang Menggunakan Media Pembelajaran Dengan Yang Tidak Menggunakan Media Pembelajaran Pada Mata Pelajaran IPS Materi Bentuk-Bentuk Muka Bumi Di Kelas VII SMP Negeri 18 Palembang Tahun 2013-2014

Judul 2                                 :  PERBEDAAN PEMBELAJARAN DENGAN MENGGUNAKAN BUKU IPS TERPADU DENGAN PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN BUKU LKS TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN AJARAN 2013-2014
Rumusan Masalah             :  Adakah Perbedaan Hasil Belajar Siswa Terhadap Pembelajaran Yang Mengunakan Buku IPS Terpadu Dengan Pembelajaran Yang Menggunakan LKS Pada Mata Pelajaran IPS Materi Bentuk-Bentuk Muka Bumi Dikelas VII SMP Negeri 18 Palembang Tahun Ajaran 2013-2014

Judul 3                                 :  PENGARUH KEDATANGAN MAHASISWA PPL (PRAKTEK PELAKSANAAN LAPANGAN) FKIP PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN AJARAN 2013-2014
Rumusan Masalah             :  Adakah Pengaruh Minat Belajar Siswa Terhadap Kedatangan Mahasiswa PPL (Praktek Pelaksanaan Lapangan) FKIP Program Studi Geografi Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Materi Bentuk-Bentuk Muka Bumi Di Kelas VII SMP Negeri 18 Palembang Tahun Ajaran 2013-2014
Judul 1                                 PERBEDAAN PERAN  GURU YANG BERALIH  DARI  PEMBELAJARAN TRADISIONAL  KE  PEMBELAJARAN  MODERN TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN AJARAN 2013-2014
Rumusan masalah             Adakah Perbedaan Hasil Belajar Siswa Terhadap Guru Yang Beralih Dari Pembelajaran Tradisional Ke Pembelajaran Modern Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Materi Bentuk-Bentuk Muka Bumi Di Kelas VII SMP Negeri 18 Aplembang Tahun ajaran 2013-2014 ?

Judul  2                                 PENGARUH  MEDIA PEMBELAJARAN MODUL INTERAKTIF TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN AJARAN 2013-2014
Rumusan masalah              Adakah Pengaruh Hasil Belajar Siswa Terhadap Media Pembelajaran Mudul Interaktif Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Materi Bentuk-Bentuk Muka Bumi Di Kelas VII SMP Negeri 18 Palembang Tahun Ajaran 2013-2014 ?

 

Judul  3                                PENGARUH PERUBAHAN PARADIGMA PEMBELAJARAN TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN 2013-2014

Rumusan Masalah             Adakah Pengaruh Hasil Belajar Siswa Terhadap Perubahan Paradigma Pembelajaran Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Di Kelas VII SMP Negei 18 Palembang Tahun Ajaran 2013-2014 ?

Judul 1                                 PERBEDAAN MODEL PEMBELAJARAN KONTRUKTIVISME DENGAN MODEL PEMBELAJARAN BEHAVIORRISTIK TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN AJARAN 2013-2014
Rumusan masalah                   Adakah Perbedaan Motivasi Belajar Siswa Terhadap Model Pembelajaran Kontruktivisme Dengan Model Pembelajaran Behavioristik Pada Mata Pelajaran IPS Terpadau Materi Bentuk-Bentuk Muka Bumi  Di Kelas VII SMP Negeri 18 Palembang Tahun Ajaran 2013-2014 ?

Judul  2                                  PERBANDINGAN MODEL PEMBELAJARAN KONVENSIONAL DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI DI SMSP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN AJARAN 2013=2014
Rumusan masalah                   Adakah Perbandingan Minat Belajar Siswa Terhadap Model Pembelajaran Konvensional Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Materi Bentuk-Bentuk Muka Bumi Di Kelas VII SMP Negeri 18 Palembang Tahun Ajaran 2013-2014 ?

 

Judul  3                                 PENGARUH TEORI BEHAVIORISTIK TEHADAP BELAJAR DAN PEMBELAJARAN PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN AJARAN 2013-2014

Rumusan Masalah             Adakah Pengaruh Belajar Dan Pembelajaran Terhadap Teori Behavioristik Di Kelas VII SMP Negeri 18 Palembang Tahun Ajaran 2013-2014 ?

Judul 1                                 PERBEDAAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK (PROJECT BASED LEARNING) DENGAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING) TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN AJARAN 2013-2014
Rumusan masalah                   Adakah perbedaan minat belajar siswa terhadap model pembelajaran berbasis proyek project based learning  dengan model pembelajaran berbasis masalah problem based learning pada mata pelajaran IPS terpadau materi bentuk-bentuk muka bumi di kelas VII SMP negeri 18 palembang tahun ajaran 2013-2014 ?

Judul  2                                  PENGARUH PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN IMFORMASI TEKNOLOGI KOMUNIKASI (ITC) TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI DI KELAS VII SMSP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN AJARAN 2013-2014
Rumusan masalah                   adakah pengaruh minat belajar siswa terhadap pengembangan pembelajaran imformasi teknologi komunikasi ITC pada mata pelajaran IPS terpadu materi bentuk-bentuk muka bumi di kelas VII SMP negeri 18 palembang tahun ajaran 2013-2014

 

Judul  3                                 PERBEDAAN  MODEL PEMBELAJARAN PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan) DENGAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI  DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN AJARAN 2013-2014

Rumusan Masalah             Adakah Perbedaan Hasil Belajar Siswa Terhadap Model Pembelajaran Paikem (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan) Dengan Model Pembelajaran Quantum Teaching Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Materi Bentuk-Bentuk Muka Bumi Di Kelas VII SMP Negeri 18 Palembang Tahun Ajaran 2013-2014 ?

Judul 1                        PERBEDAAN METODE PEMBELAJARAN PROBABILISTIC DENGAN METODE PEMBELAJARAN DETERMINISTIC TERHADAP HASIL  BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI DI KELAS VII  SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN AJARAN 2013-2014
Rumusan masalah             Adakah Perbedaan Hasil Belajar Siswa Terhadap Metode Pembelajaran Probabilistic Dengan Model Pembelajaran Deterministic Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Materi Bentuk-Bentuk muka Bumi di Kelas VII  SMP Negeri 18 Palembang Tahun Ajaran 2013-2014 ?

Judul  2                                 PENGARUH PENERAPAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS IT  TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN AJARAN 2013-2014
Rumusan masalah              Adakah Pengaruh Minat Belajar Siswa  Terhadap Penerapan Media Pembelajaran Berbasis IT Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Materi Bentuk-Bentuk Muka Bumi Di Kelas VII SMP Negeri 18 Palembang Tahun Ajaran 2013-2014 ?

 

Judul  3                                PERBEDAAN PENGGUNAAN  MODEL PEMBELAJARAN MIKROMORF DENGAN MODEL PEMBELAJARAN PARAMORF TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI  DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN AJARAN 2013-2014

Rumusan masalah      Adakah Perbedaan Hasil Belajar Siswa Terhadap penggunaan Model Pembelajaran Mikromorf Dengan Model Pembelajaran Paramorf  Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Materi Bentuk-Bentuk Muka Bumi Di Kelas VII SMP Negeri 18 Palembang Tahun Ajaran 2013-2014 ?

Judul 1                    :  PERBEDAAN MEDIA PEMBELAJARAN PROJECTED STILL DENGAN PEMBELAJARAN  PROJECTED MOTION TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI DI KELAS VII  SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN AJARAN 2013-2014
Rumusan masalah                                                                                Adakah Perbedaan Motivasi Belajar Siswa Terhadap Model Pembelajaran Projected Still Dengan Projected Motion Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Materi Bentuk-Bentuk muka Bumi di Kelas VII  SMP Negeri 18 Palembang Tahun Ajaran 2013-2014 ?

Judul  2                            :                                                                       PERBEDAAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI DENGAN MODEL PEMBELAJARAN VALUE CLARIFICATION TECHNIQUE (VCT) TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN AJARAN 2013-2014
Rumusan masalah              Adakah Perbedaan Minat Belajar Siswa Terhadap Model Pembelajaran Inkuiri Dengan Model Pembelajaran Value Clarification Technique (VCT) Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Materi Bentuk-Bentuk Muka Bumi Di Kelas VII SMP Negeri 18 Palembang Tahun Ajaran 2013-2014 ?

 

Judul  3                             :  PENGARUH PENDEKATAN ITM (ILMU-TEKNOLOGI DAN MASYARAKAT) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI  DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN AJARAN 2013-2014

Rumusan masalah      Adakah Pengaruh Hasil Belajar Siswa Terhadap Pendekatan ITM (Ilmu Teknologi Dan Masyarakat) Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Materi Bentuk-Bentuk Muka Bumi Di Kelas VII SMP Negeri 18 Palembang Tahun Ajaran 2013-2014 ?

Judul 1                                 : PENGARUH MEDIA INTERAKTIF BERBASIS MANUSIA DAN KOMPUTER DALAM PENDIDIKAN TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN 2013-2014
Rumusan Masalah             :  Adakah Pengaruh  Minat Belajar Siswa Dalam Pendidikan Terhadap Media Interktif  Berbasis Manusi Dan Komputer  Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Materi Bentuk-Bentuk Muka Bumi Di Kelas VII SMP Negeri 18 Palembang Tahun 2013-2014 ?

Judul 2                                 :  PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PORTOFOLIO  TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN AJARAN 2013-2014
Rumusan Masalah             :  Adakah Pengaruh Hasil Belajar Siswa Terhadap Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Fortofolio Pada Mata Pelajaran IPS Materi Bentuk-Bentuk Muka Bumi Dikelas VII SMP Negeri 18 Palembang Tahun Ajaran 2013-2014 ?

Judul 3                                 :  PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PENDEKATAN SCIENTIFIC TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN AJARAN 2013-2014
Rumusan Masalah             :  Adakah Pengaruh Minat Belajar Siswa Terhadap Model Pembelajaran  Pendekatan Scientific Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Materi Bentuk-Bentuk Muka Bumi Di Kelas VII SMP Negeri 18 Palembang Tahun Ajaran 2013-2014 ?
Judul 1                        PENGARUH  KONSEP  PEMBELAJARAN  SCAMPAR DALAM MEMICU KREATIVITAS SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN 2013-2014
Rumusan masalah        adakah pengaruh kreativitas siswa terhadap konsep pembelajaran SCAMPAR pada mata pelajaran IPS materi bentuk-bentuk muka bumi di kelas VII SMP negeri 18 palembang  tahun 2013-2014 ?

Judul  2                       PERBEDAAN EVOLUSI DAN REVOLUSI TEKNOLOGI TERHADAP PEMANFAATAN DALAM PEMBELAJARAN DI BIDANG ILMU IPS DI  KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMANG 2013-2014
Rumusan masalah        Adakah Perbedaan Pemanfaatan Dalam Bidang Ilmu IPS Terhadap Evalusi Dan Revolusi Teknologi Pada Mata Pelajaran IPS Di Kelas VII SMP Negeri 18 Palembang Tahun Ajaran 2013-2014 ?

 

Judul  3                       PENGARUH GEDUNG BARU PERPUSTAKAAN  TERHADAP MINAT BACA MAHASISWA FKIP PROGRAM STUDI GEOGRAFI UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG TAHUN 2014 ?

Rumusan masalah      Adakah Pengaruh Minat Baca Mahasiswa FKIP Program Studi Pendidikan Geografi Terhadap Gedung Baru Perpustakaan Universitas PGRI Palembang Tahun 2014?

Judul 1                        : HUBUNGAN MANFAAT FACEBOOK SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN ONLINE TERHADAP  MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI DI SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN 2013-2014
Rumusan Masalah       : Adakah Hubungan Motivasi Belajar Siswa Terhadap Manfaat Facebook Sebagai Media Pembelajaran Online Pada Mata Pelajaran IPS Materi Bentuk-Bentuk Muka Bumi Di Kelas VII SMP Negeri 18 Palembang Tahun 2013-2014 ?

Judul 2                        : PERBEDAAN MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KREAKTIF TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS
Rumusan Masalah       : Adakah Perbedaan hasil belajar siswa terhadap model pembelajran inovatip dengan model pembelajaran kreatif pada mata pelajaran IPS materi bentuk-bentuk muka bumi di kelas VII SMP negeri 18 palembang tahun 2013-2014 ?

Judul 3                        : PENGARUH PENAMBAHAN JAM BELAJAR MATA PELAJARAN IPS PADA KURIKULUM 2013 TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN 2013-2014
Rumusan Masalah       : Adakah Pengaruh Hasil Belajar Siswa Terhadap Penambahan Jam Belajar Mata Pelajaran IPS Pada Kurikulum 2013 Di Kelas VII SMP Negeri 18 Palembang Tahun 2013-2014 ?
Judul 1                        PENGARUH PECANDU ROKOK TERHADAP EKONOMI MAHASISWA FKIP PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG YANG NGEKOST DI JALAN AHMAD YANI KOTA PALEMBANG TAHUN 2014
Rumusan masalah       Adakah Pengaruh Ekonomi Mahasiswa FKIP Program Studi Pendidikan Geografi Universitas PGRI Palembang Terhadap  Pecandu Rokok Di Jalan Ahmad Yani Kota Palembang Tahun 2014 ?

Judul  2                       PENGARUH SERIAL SINETRON  STASIUN TELEVISI SWASTA  TERHADAP TINGKAH LAKU SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI DI SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN 2013-2014
Rumusan masalah        Adakah Pengaruh Tingkah Laku Siswa Terhadap Serial Sinetron Stasiun Televisi Swasta Pada Mata Pelajaran IPS Materi Bentuk-Bentuk Muka Bumi Di SMP Negeri 18 Palembang Tahun 2013-2014

 

Judul  3                       HUBUNGAN MEDIA KERTAS KARTON TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI DI SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN 2013-2014

Rumusan Masalah       Adakah hubungan minat belajar siswa terhadap media kertas karton pada mata pelajran IPS materi bentuk-bentuk muka bumi di kelas VII SMP negeri 18 palembang tahun 2013-2014 ?

Judul 1                        HUBUNGAN SITUS INTERNET GOOGLE TERHADAP BIDANG PERKERJAAN MAHASISWA FKIP PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG TAHUN 2014
Rumusan masalah       Adakah Hubungan Bidang Pekerjaan Mahasiswa FKIP Program Studi Pendidikan Geografi Universitas PGRI Plembang  Terhadap Situs Internet GOOGLE Tahun 2014 ?

Judul  2                       PENGARUH KONSEP PEMBELAJARAN MUTAKHIR DAN INOVATIF JENIS SPICES TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN 2013-2014 ?

Rumusan masalah        Adakah Pengaruh Minat Belajar Siswa Terhadap Konsep Pembelajaran Mutahir Dan Inovatif  Jenis SPICES Pada Mata Pelajran IPS Materi Bentuk-Bentuk Muka Bumi Di Kelas VII SMP Negeri 18 Palembang Tahun 2013-2014 ?

Judul  3                       PENGARUH TINGKAT IMPLEMENTASI YANG RENDAH DARI METODE ACTIVE LEARNING  TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN 2013-2014

Rumusan masalah       Adakah Pengaruh Minat Belajar Siswa Terhadap Tingkat Implementasi Yang Rendah Dari Metode Aktive Learning Pada Mata Pelajran IPS Materi Bentuk-Bentuk Muka Bumi Di Kelas VII SMP Negeri 18 Palembang Tahun 2013-2014 ?          

Judul 1                        PENGARUH MENGEMBANGKAN PEMBELAJARAN IPS BERBASIS MASALAH (PBM) UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA DI SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN 2013-2014
Rumusan masalah       Adakah Perbedaan Prestasi  Belajar Siswa Terhadap Pengembangan Pembelajaran IPS Berbasis (PBM) Masalah Di Kelas VII  SMP Negeri 18 Palembang Tahun Ajaran 2013-2014 ?

Judul  2                       PENGARUH PEMBANGUNAN JEMBATAN FLY OVER SIMPANG JAKABARING TERHADAP LALU LINTAS DI JEMBATAN AMPERA KOTA PALEMBANG TAHUN 2014
Rumusan masalah        Adakah Pengaruh Lalu Lintas Dijembatan Ampera Terhadap Pembangunan Jembatan Fly Over Di Simpang Jakabaring Kota Palembang Tahun 2014 ?

 

Judul  3                       PENGARUH KEDATANGAN MAHASISWA PPL (PRAKTEK PELAKSANAAN LAPANGAN) FKIP PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU MATERI BENTUK-BENTUK MUKA BUMI DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN AJARAN 2013-2014

Rumusan masalah      Adakah Pengaruh Minat Belajar Siswa Terhadap Kedatangan Mahasiswa PPL (Praktek Pelaksanaan Lapangan) FKIP Program Studi Geografi Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Materi Bentuk-Bentuk Muka Bumi Di Kelas VII SMP Negeri 18 Palembang Tahun Ajaran 2013-2014 ?

Judul 1                        :           PERBEDAAN FAKTOR-FAKTOR EKSTERNAL SISWA TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS MATERI BENTUK-BENTUIK MUKA BUMI DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN 2013-2014
Rumusan Masalah       : Adakah Perbedaan Minat Belajar Siswa Terhadap Faktor-Faktor Eksternal Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Materi Bentuk-Bentuk Muka Bumi Di SMP Negeri 18 Palembang Tahun 2013-2014 ?

Judul 2                        : PENGARUH TEMAN YANG CERDAS TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN 2013-2014
Rumusan Masalah       : Adakah Pengaruh Hasil Belajar Siswa Terhadap Teman Yang Cerdas Pada Mata Pelajaran IPS Dikelas VII Smp Negeri 18 Palembang Tahun 2013-2014 ?

Judul 3                        : PENGARUH KENAKALAN SISWA DI DALAM RUANG KELAS TERHADAP KONSENTRASI  BELAJAR  MENGAJAR  PADA MATA PELAJARAN IPS DI KELAS VII  SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN 2013-2014
Rumusan Masalah       : adakah pengaruh konsentrasi belajar mengajar terhadap kenakalan siswa di dalam ruang kelas pada mata pelajaran IPS di kelas VII SMP Negeri 18 palembang tahun 2013-2014 ?
Judul 1                        PENGARUH PENERAPAN KURIKULUM 2013 TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG 2013-2014
Rumusan masalah       Adakah Pengaruh Minat Belajar Siswa Terhadap Penerapan Kurikulum 2013 Pada Mata Pelajaran IPS Di Kelas VII SMP Negeri 18 Palembang Tahun 2013-2014 ?

Judul  2                       PENGARUH TEMAN YANG CERDAS TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN 2013-2014
Rumusan masalah        Adakah Pengaruh Hasil Belajar Siswa Terhadap Teman Yang Cerdas Pada Mata Pelajaran IPS Dikelas VII Smp Negeri 18 Palembang Tahun 2013-2014 ?

 

Judul  3                       PERBEDAAN PERUBAHAN PARADIGMA PEMBELAJARAN TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN 2013-2014

Rumusan Masalah       Adakah Perbedaan Hasil Belajar Siswa Terhadap Perubahan Paradigma Pembelajaran Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Di Kelas VII SMP Negei 18 Palembang Tahun Ajaran 2013-2014 ?

Judul 1                        PERBEDAAN PENDAPATAN PENJUAL MIE TEK-TEK PADA MALAM MINGGU DENGAN MALAM LAINNYA DI BENTENG KOTO BESAK KOTA PALEMBANG TAHUN 2013-2014
Rumusan masalah       Adakah Perbedaan Malam Lainnya Dengan Malam Minggu Terhadap Pendapatan Penjual Mie Tek-Tek Di Benteng Kuto Besak Kota Palembang Tahun 2014 ?

Judul  2                       PENGARUH KENAKALAN SISWA DI DALAM RUANG KELAS TERHADAP KONSENTRASI  BELAJAR  MENGAJAR  PADA MATA PELAJARAN IPS DI KELAS VII  SMP NEGERI 18 PALEMBANG TAHUN 2013-2014
Rumusan masalah        adakah pengaruh konsentrasi belajar mengajar terhadap kenakalan siswa di dalam ruang kelas pada mata pelajaran IPS di kelas VII SMP Negeri 18 palembang tahun 2013-2014 ?

 

Judul  3                       PENGARUH MANAJEMEN PENDIDIKAN YANG TIDAK  BERBASIS KOMPETENSI TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS DI KELAS VII SMP NEGERI 18 PALEMBANG  TAHUN 2013-2014

Rumusan Masalah       adakah pengaruh hasil belajar siswa terhadap manajemen pendidikan yang tidak berbasis kompotensi pada mata pelajaran IPS di kelas VII SMP Negeri 108 palembang tahun 2013-2014 ?